Menikah di Istana Cinderella, Tokyo Disney Land

let’s be honest with ourselves. kebanyakan dari yang baca artikel ini (apalagi yang mbak-mbak) pasti dibesarkan dengan menonton film princess-princessan Disney. sehingga akhirnya menikah di Istana Cinderella pastinya jadi salah satu tujuan hidup, tul gak?

Tahun lalu, salah satu selebriti Indonesia menggemparkan dunia persilatan dengan menikah di Istana Cinderella di Tokyo Disney Land (silakan dicek disini) – setelah sebelumnya menikah secara agama di Indonesia (kalo cuman kawin di istana Cinderalla ga bisa lah yaa).

kami yakin, banyak orang yang bertanya: berapaan sih biayanya? ternyata ga mahal-mahal banget lho.

pertama-tama, harus dihitung adalah biaya menyewa tempat di istana Cinderella di Tokyo Disney Land. seperti bisa dilihat disini, resepsi perkawinan Disney Royal Dream Wedding menghabiskan biaya sekitar 7,7 juta Yen (atau sekitar 951 juta Rupiah dengan kurs sekarang) untuk jumlah tamu sebanyak maksimal 50 orang (di Jepang memang ga begitu banyak undangannya kalo kawinan).

7,7 juta Yen ini dapet apa aja sih? kalo liat disini ini sudah termasuk:

Acara di Istana Cinderella:
– Upacara di dalam Istana Cinderella di Tokyo Disney Land
– Prosesi di depan Istana Cinderella di Tokyo Disney Land
Flower Shower

Resepsi di dalam Hotel Tokyo Disney Land:
– Minum
Original Wedding Cake
– Baju pernikahan mempelai lelaki
– Baju pernikahan mempelai perempuan
Make up
Original Make up Bag
– Undangan
– Buku Tamu
– Karangan bunga dan Lilin di Meja Pengantin
– Karangan bunga di meja tamu
– Cake
– Korset
– Musik dan MC
– Fotografer dan Video

Selain itu, yang memesan paket jenis juga mendapatkan
– ditemani oleh karakter Disney selama pernikahan
– Figurine unik dari hotel Tokyo Disney Land
– Hadiah pernikahan dari hotel Tokyo Disney Land
– One day pass di Tokyo Disney Land/Disney Sea
– satu malam menginap di Walt Disney Suite di hotel Tokyo Disney Land
– Diskon menginap 15% di maksimal 10 kamar dalam hotel Tokyo Disney Land
– Voucher menginap di hotel Tokyo Disney Land pas anniversary pernikahan

Asli ini bener-bener cuman tinggal bawa badan aja dari Indonesia (kecuali mau pake kebaya atau baju daerah ya.. which is kinda cool kalo sampe ada yang pake baju daerah di kawinan Disney Land)

Lalu berikutnya adalah transportasi dari Indonesia ke Jepang. kalo naik JAL pas off season (yang paling enak dan murah ke Jepang), biayanya sekitar 7 jutaan per orang. Jadi total untuk 50 orang adalah: 350 juta Rupiah.

Setelah itu, biaya menginap. Biaya menginap di hotel bintang tiga dekat Disney adalah 1 juta Rupiah per malam untuk 5 hari, sehingga total per orang adalah 5 juta, dikali 50 menjadi: 250 juta Rupiah

Jangan lupa juga biaya transportasi lokal untuk masing-masing orang selama di Jepang, yang bisa habis sekitar 2 juta Rupiah; dikali 50 totalnya jadi 100 juta Rupiah. Lalu juga budget makan, yang per orangnya bisa habis sekitar 400 ribu rupiah per hari. dikali 5 jadi 2 juta Rupiah, dikali 50 totalnya jadi 100 juta Rupiah

gak jauh beda sama bikin resepsi yang lavish di Jakarta kan?

tertarik pengen kawin (eh nikah) di Tokyo Disney Land? atau cuman tertarik jalan-jalan ke Tokyo Disney Land pasca nikah di Jakarta (alias Hornymoon)? hubungi kami ya

*semua harga yang tertulis disini adalah valid sesuai dengan kurs tukar mata uang Yen ke Rupiah pada tanggal 17 Agustus 2017

Sehari di Kyoto – Kemana aja?

Banyak orang bertanya, kalo ke Kyoto dan cuman punya sehari, enaknya kemana ya?

Ini itinerarynya: Pertama-tama ke Statiun Kyoto dulu.

Sampai di stasiun Kyoto, mari menyewa kimono terlebih dahulu di Wargo. Berdasarkan pengalaman kami, Wargo punya koleksi paling banyak, dan dengan harga yang paling masuk akal. Lokasinya ada di Kyoto Tower (tepat di depan stasiun Kyoto) – ga jauh kan?

foto-wargo

Dari Stasiun Kyoto, cuman 3 menit ke Kyoto Tower. Tokonya ada di lantai 3

Dari Stasiun Kyoto, cuman 3 menit ke Kyoto Tower. Tokonya ada di lantai 3

Jangan lupa untuk klik disini kalo mau sewa kimono di Wargo.

Setelah itu, kita balik ke stasiun Kyoto ya buat ke hutan bambu Arashiyama. Dari stasiun Kyoto, kita naik kereta Sagano Line ke stasiun Saga Arashiyama (peronnya ada di line 0, atau 1 atau 2 (dari pintu masuk Kyoto Station belok kanan ga naik eskalator lagi), biayanya 240 Yen

Dari stasiun Saga Arashiyama, jalan kaki ya ke hutan Bambunya

Jalan kaki ya. Mayan jauh sih sekitar 1 km (but it is worth the trip)

Jalan kaki ya. Mayan jauh sih sekitar 1 km (but it is worth the trip)

Nanti kamu akan lihat pemandangan seperti ini

Pemandangan di hutan Bambu

cakep ya?

Bisa juga foto disini:

say Cheese!

say Cheese!

abis dari sini, balik lagi ke stasiun Kyoto. Jangan lupa pas balik ke stasiun Kyoto, di stasiun Saga Arashiyama, keretanya mulai dari baris ketiga, bukan baris kesatu (keretanya pendek soalnya)

sampe stasiun Kyoto, naik Nara line ke Fushimi Inari ya, biayanya 140 Yen saja. sampai di stasiun, di sebelah kiri langsung ada kuilnya, Fushimi Inari

Kuil Fushimi Inari

Kuil Fushimi Inari

Terus naik keatas sebelah kanan, nanti ada ratusan gate berwarna merah (Torii). Disini lokasi pemotretan yang dipake di film Memoirs of Geisha

Begini foto di Torii

Begini foto di Torii

Kalo udah bosen di Fushimi Inari, kita ke Gion. Naik kereta ya dari Fushimi Inari (bukan Inari Station lagi)

Stasiunnya namanya Fushimi Inari ya, bukan Inari

Stasiunnya namanya Fushimi Inari ya, bukan Inari

Naik Keihan Line sampe Gion Shijo, biayanya 240 yen. Keluar di pintu 6/7, nanti sampai di jalanan Gion. Jalan kaki sampe Hanamikojidori ya (di sebelah kiri lo nantinya). Disini baru keliatan Kyoto jaman dulu.. syukur-syukur ketemu Maiko

3156

jangan lupa foto pake Kimono, sumpah keren banget disini

Keren kan kalo pake Kimono disini?!

Keren kan kalo pake Kimono disini?!

dari Gion, kita balik lagi ke stasiun Kyoto dengan naik bis. Lokasi halte bisnya pas di depan Yasaka Shrine, yang ada di pertigaan

dari Hanamikoji Dori, jalan kaki ke bus stop di depan Yasaka Shrine ya

dari Hanamikoji Dori, jalan kaki ke bus stop di depan Yasaka Shrine ya

Naik bis 100/110, pas turun jangan lupa untuk mentap Suicanya yaa (250 Yen aja kok). karena turunnya di depan Kyoto Tower, jangan lupa untuk balikin kimononya yaa

Pengen dapet itinerary lengkap ke Kyoto? atau malah mau private tour ke Kyoto? hubungi kami ya 😀

 

Business Class Garuda Indonesia: gimana sih rasanya?

Ceritanya berawal dari gue harus stay lebih dari 14 hari di Jepang karena ada 3 kelompok yang akan gue guide secara berurutan; karena lebih dari 14 hari, maka gue ga bisa lagi pake tiket promo ekonomi GA (more on plane tickets and its class, later on), dan harus bayar full kelas Y yang jumlahnya ga tanggung-tanggung: 15 juta Rupiah (wow udah bisa ke Amerika ini mah judulnya)

Sebelum bayar tiket, gue berpikir keras gimana caranya supaya ga sia-sia bayar 15 jutanya.. dan akhirnya menemukan cara untuk beli tiket business class dengan harga yang sama dengan naik kelas ekonomi

Jalan ke Haneda

pas hari H berangkat, ga make lounge business class GA karena harus mengikuti jadwal customer yang berangkat barengan sama gue. masuk ke kabin, duduk di 11A, akhirnya bisa melihat Super Diamond Seat -nya GA secara langsung and I was amazed (maaf atas pencahayaan yang gelap)

Super Diamond Seat

Dengan konfigurasi 1-2-1 dan hanya 6 baris, langsung berasa eksklusivitas Business Class di pesawat A330-300 baru dari GA (kalo ga salah baru dilaunch bulan Februari kemarin, beritanya disini), Selama perjalanan disuguhi beberapa makanan yang penyuguhannya mirip sama restoran fine dining:

sebagai makanan pembuka, dikasih buah-buahan, roti dan yogurt

sebagai makanan pembuka, dikasih buah-buahan, roti dan yogurt

buat Main Course, dikasih nasi kuning dengan ikan roa, mantepp

buat Main Course, dikasih nasi kuning dengan ikan roa, mantepp

sebagai penutup, dikasih pilihan mau minum kopi atau teh. gue memilih ocha jenis Gyokuro

sebagai penutup, dikasih pilihan mau minum kopi atau teh. gue memilih ocha jenis Gyokuro

Mesin Kiri GA874

Oh iya, berhubung perjalanan lumayan panjang, gue memfoto beberapa fasilitas yang ada di kelas bisnis:

Headphone

Headphone Kelas Bisnis yang beda banget sama Ekonomi

Senderan Kaki

bisa naekin kaki kesini kalo posisi tidur

Colokan

Colokan dengan voltase 110V

Colokan lagi

kali ini colokan untuk headphone dan usb (kalo mau ngecharge HP)

remote

remote in flight entertainment

remote kursi

ini adalah remote untuk mengatur kursi jadi posisi duduk tegak (pas mau takeoff dan landing), sama posisi tidur

lampu baca

lampu baca yang versi kecil

layar touchscreen super besar

layar touchscreen super besar

Setelah melewati flight yang super bumpy (konon kabarnya ada topan yang sedang terbentuk di sekitar Taiwan), sampai juga di Haneda

Kembali ke Jakarta

Berhubung bangunnya telat, jadilah gue berangkat buru-buru ke Haneda ga pake mandi (padahal mandi terakhir kali 12 jam sebelumnya); jadi inget kalo pas kecil, mau naik pesawat Palembang – Jakarta aja bakalan mandi dan dandan abis-abisan, lah sekarang naik pesawat beda negara kagak mandi sama sekali.

Anyway, salah satu hal yang paling bikin kzl kalo balik dari Haneda adalah antrian check in buat GA yang boleh dibilang penuh banget.

Antrian GA

untungnya buat penumpang Business Class, antriannya beda:

Antrian Business Class

Setelah check in dan masukin bagasi (yang surprisingly cuman 46 kg, padahal batasannya 64 kg), gue pun melipir naik ke Yoshinoya di lantai 4 buat makan Beef Bowl Wagyu (yg setau gue cuman ada di Yoshinoya Haneda International Terminal):

Wagyu Beef Bowl yang cuman ada di Yoshinoya Haneda, harganya 1250 Yen

Wagyu Beef Bowl yang cuman ada di Yoshinoya Haneda, harganya 1250 Yen

Setelah itu gue melewati Imigrasi, dan masuk ke loungenya Business Class. Di Haneda ada 2 lokasi lounge untuk Business Class Garuda, yaitu di TIAT Lounge (yang terletak di tengah-tengah Departure Area), sama TIAT Lounge Annex (yang terletak di sisi kiri dari Departure Area). Berhubung GA berangkat dari gate 141, gue mencoba TIAT Lounge Annex

TIAT Lounge Annex

TIAT Lounge Annex

Kursi TIAT Lounge Annex

Kursi TIAT Lounge Annex

Makanan TIAT Lounge Annex

Makanan TIAT Lounge Annex

Makanan TIAT Lounge Annex

Minuman TIAT Lounge Annex (Khmar, bikin mabok)

Wastafel TIAT Lounge Annex

kenapa ini dimasukin? karena pagi sebelum berangkat belum sempet boker, jadi baru bisa pas mau take off.. Alhamdulillah karena sepi dan bersih, lancar banget (TMI)

kenapa ini dimasukin? karena pagi sebelum berangkat belum sempet boker, jadi baru bisa pas mau take off.. Alhamdulillah karena sepi dan bersih, lancar banget (TMI)

Pre Boarding

Cuaca Haneda pas berangkat

Cuaca Haneda pas balik lumayan nyeremin karena ujan deres dari pagi, dan jarak pandang yang jelek. mayan serem pas mau jalan

Pesawat pulang hari ini

Pesawat pulang hari ini

Berbeda dari pesawat datang yang gue duduk di 11A, kali ini gue duduk di 11K

11K

Kali ini, dimulai dengan nonton Deadpool

Deadpool pun tahu gue ga mandi hari itu

Deadpool pun tahu gue ga mandi hari itu

Flight balik ga gitu bumpy, cuman pas takeoff aja yang berasa berat

Mesin Kanan GA875

Oh iya, berikut adalah makanan yang gue dapatkan selama perjalanan pulang

Pojok kiri atas soto ayam lamongan Pojok kanan atas: buntut sapi dengan bumbu rendang Pojok Kiri bawah: Sate Pojok Kanan bawah: Kue Tart Karamel dengan Kacang (paling enak)

Pojok kiri atas soto ayam lamongan
Pojok kanan atas: buntut sapi dengan bumbu rendang
Pojok Kiri bawah: Sate
Pojok Kanan bawah: Kue Tart Karamel dengan Kacang (paling enak)

Sampe di CGK, turun duluan. pas sampe di Imigrasi, ternyata ada perubahan buat antrian Imigrasi, jadi kalo WNI langsung ke sebelah kiri (yang biasa buat WNA), jadi lebih cepet antrian keluarnya.

Bagasi juga diambilin (emang enak jadi orang kaya.. banyak fasilitasnya. pantes banyak orang kepengen jadi kaya), keluar dari bea cukai (yang Alhamdulillah ga banyak ditanyain apalagi sampe dicek bagasinya), balik naik Uber Black, pas sampe rumah langsung pesen nasi goreng (karena udah kangen banget sama nasi goreng)

bang.. nasi gorengnya satu. SATU BAKUL!

bang.. nasi gorengnya satu. SATU BAKUL!

Semoga berkesan dan ga capek ya bacanya. kalo ada komen, langsung mensyen aja @turjepang di twitter.. yang paling bagus komennya, ada oleh-oleh dari Jepang lho. Ditunggu!

Makan Sushi – Sukibayashi Jiro


Yihaaa, akhirnya nyobain juga Sukibayashi Jiro cabang Roppongi bersama chef Takashi Ono. Nyobain full Sashimi Sushi Course mereka. Nah buat perbandingan cerita ama yang kemarin, Masakatsu Oka didikan dari Sushi Sho yang terkenal lebih nyentrik dalam bikin Sushi, mereka ga cuma ngandalin sisi bahannya, tapi juga mencari banyak cara lain untuk mengeluarkan rasa terpendam dari Sushi, makanya teknik dan bumbunya macam2. Lulusan Sushi Sho ketika bikin restoran baru pasang titel Sushisho di depan nama chef mereka untuk menghormati grand master mereka. Saya bisa bilang kalau Mantenzushi dan Sushi Masa di Jakarta (yang Chef-nya pernah belajar juga di Mantenzushi), ngikutin gaya teknik aliran Sushi Sho. 

Tapi filosofi Sukibayashi Jiro beda dalam konteks mereka lebih mentingin bahan dan rasa mendasar dari bahan2 tersebut, jadi memang ga banyak tambahan teknik yang “nyentrik”, dan lebih klasik. Untungnya Chef Takashi Ono ga sekeras bapaknya yang kayanya jangankan ngambil foto, di buku mereka aja ditulis ga boleh ngobrol2, hahaha (mereka jualan buku Sushi, cocok buat dikoleksi). Pas lagi bikin Sushi, tampang dia serius banget, tapi dia akan jelasin secara rinci gimana cara dia buat Sushi sama apa yang dia lakukan di belakang untuk membuat Sushi tersebut. Habis makan, dia senyum2 ngajak ngobrol macam2 dan bahkan mau foto bareng juga, hehehe. 
Dari segi jumlah Sushi, Sukibayashi Jiro memang hanya memberikan 15 potong Sushi dan 4 tipe Sashimi, tapi porsi ikannya gede2 semua jadi memang beda filosofi lagi dengan Sushisho Masa yang ngasih banyak tipe ikan dan seafood namun dengan ukuran lebih kecil. 

Untuk rasa, Sukibayashi Jiro Roppongi jelas memberikan perlawanan yang seru terhadap Sushisho Masa. Tetapi pada akhirnya saya tetap menganggap Sushisho Masa lebih superior. Dalam pertarungan antar aliran ini, saya putuskan saya lebih suka aliran Sushi Sho (review rinci menyusul karena buanyakkkk yang kudu dibahas, udah kaya bikin paper ajah). Jadi kalau Sukibayashi Jiro Roppongi ini dapat 2 Michelin Stars, saya berani bilang Sushisho Masa layak dapat 3 Michelin Stars. 

PS: gosip di internet, Sushi Sho dan murid2nya pernah direview Michelin dan ada salah satu muridnya dapet Michelin Star. Tapi grand master mereka ga suka dengan orang2 Michelin dan katanya ngusir mereka keluar dari restoran dia, hahaha. Habis itu, semua muridnya juga ga mau dinilai ama Michelin dan balikin bintangnya demi Guru mereka, ckckckckck. Well, ada atau ga ada Michelin Star, intinya buat saya masalah mana yang lebih enak dan seru aja. This is fun indeed.

Pramudya Oktavinanda adalah mantan teman sekantor dan juga teman sekampus saya, tulisan seriusnya bisa dicek disini

Makan Sushi – Sushisho Masa


Sebagaimana yang pernah dijanjikan dari jaman dahulu kala, turjepang dotcom akan menampilkan tulisan mengenai makan di restoran Jepang di Jepang. Kali ini penulisnya adalah mantan teman sekantor, teman sekampus juga, Pram (bisa dicek websitenya di pramoctavy.com, di twitter juga @pramoctavy). Berhubung ybs sedang liburan dan wisata kuliner di Jepang, berikut tulisan pertamanya.

sebelum saya posting soal Kyubey, saya nunggu nyobain Sushisho Masa dulu buat bikin perbandingan. Kasian Kyubey, meaningless dibandingkan ama Sushisho Masa. 

Tanpa perlu banyak cingcong, Masakatsu Oka, chef dan pemilik Sushisho Masa adalah penyedia sushi sekaligus makanan terbaik yang pernah saya nikmati sampai dengan hari ini. Sementara Kyubey jangankan bersaing ama Sushisho Masa, ama Mantenzushi aja KO. 

Kalau dulu Mantenzushi bikin bulu tangan saya merinding, Sushisho Masa bikin seluruh bulu kuduk saya berdiri, paling ga 4 kali, hahaha. Dengan lebih dari 40 tipe Sashimi dan Sushi luar biasa yang disediakan selama 2,5 jam, harga 2/3 Jiro, dan suasana rileks dan sangat bersahabat, saya ga heran kalau kebanyakan orang2 yang udah pernah nyobain dua2nya bilang Jiro bukan lawannya Sushisho Masa. Indeed, saya dengan senang hati bersedia pergi ke Jepang sekedar untuk makan malam lagi di restoran ini. Berhubung banyak banget menu yang dikasih, review spesifik menyusul selanjutnya. 
Saya cuma berdoa moga2 chef Masakatsu Oka panjang umur supaya bisa lama bermain di bisnis ini. Moga2 juga besok ada perlawanan seru dari anaknya Jiro dan saudara seperguruan chef Masakatsu di Sushisho Saito, hahaha.
(restoran Sushisho Masa ada di daerah Nishi Azabu – ed)